Dear mbak AE,
Perkenalkan Saya salah satu folower yang mengagumimu. Karena itu di proyek #30HariMenulisSuratCinta ini saya tujukan surat ini untuk Mbak... (tepuk tangan). Itu saja, nggak ada alasan lain :D
Jujur sebelumnya, Saya hanya tahu mbak AE di twitter dengan account @AlberthieneE, bahkan Saya tidak tahu kalau Mbak adalah seorang penulis buku-buku best seller. Suatu ketika teman saya @dendiriandi me-RT twit-twit mbak AE, dan seperti orang lain juga, setiap twit-twit mbak AE menimbulkan kondisi dimana seorang akan akan berkata "Ah, bener juga ya" atau "Ah itu gw banget!"
Dan seperti yang bisa ditebak semua pemirsa (halah) saya pun memfollow mbak di twitter, mbak tidak ingin folback saya? #eaa #modus :)). Setiap saya baca twit mbak, saya kemudian jadi berpikir, pasti hidup mbak AE berwarna sekali, kok bisa2nya semua twit-twit itu pas dengan yang baca. Dari fakta PDKT, pacaran, rindu, putus atau entah apalgi yang sekali lagi membuat pembacanya akan berkata.. "Aaaaah kok mbak AE tau siiih..." (itu bukan ekspresi saya loh mbak :D) Saya semakin tertarik dan jatuh cinta sama mbak eh salah maksudnya sama twitnya Mbak... hihihi... Nah dari situ kemudian saya pun cari tahu, siapa sih AE ini, kok bisa-bisanya nge-twit begitu? Daaaaan, ternyata dia adalah seorang penulis novel dan penulis biografi orang-orang terkenal... Haha, kemana aja saya selama ini? Maklum aja mbak saya jauh di timur, ga ada toko buku kaya gramedia disini.. *ngeles :p
Eh mbak pernah loh balas mention saya di twitter, ah mbak pasti ga ingat, tapi saya maklum karena banyak sekali folower mbak dan mungkin setiap hari ada ratusan mention datang ke mbak. Waktu itu saya ngetweet andai saya bisa ketemu dan mempunyai buku mbak AE. Dan mbak AE balas, ntar akan ada Web yang lebih mengakomodir pertanyaan pembaca. Pokoknya kurang lebih begitulah isinya, saya lupa persis kalimatnya :D Yang jelas saya waktu itu senang sekali, Yeay!, ternyata mbak AE baik, mau balas mention saya yang jauh ini... Saya sampai RT lagi loh mbak mentionan mbak itu hihihi.
Harapan saya, jika suatu saat nanti sempat ke Kota yang ada Toko bukunya adalah beli salah satu buku mbak, satu dulu aja ya mbak, ntar kalau uangnya udah banyak lagi beli lagi :p. Dan satu lagi saya juga sangat ingin ikut workshop yang mbak adakan kaya tahun lalu. Mbak tahu betapa irinya saya pada peserta acara itu yang kayanya seru banget, ah tapi saya juga maklum kok, ga mungkin seluruh Indonesia terakomodir. Siapa tahu tahun ini saya berkesempatan ke Jakarta dan ikut workshopnya. Ntar kalau ada kabarin ya Mbak...
Baiklah, segitu dulu surat "cinta" nya mbak udah disuruh bos kerja lagi. Nanti saya lanjutkan di twitter aja, saya lanjutkan baca twit mbak maksudnya :D
Salam
@khairulabdie
Tuesday, January 17, 2012
Monday, January 16, 2012
To: Masih kamu yang duduk di sudut Halte
Hai...
Ini ketiga kalinya aku kirim surat, setelah surat pertama dan kedua sepertinya tidak kamu terima. Ya akhirnya aku menyimpulkan kamu tidak menerima setelah hari ini kamu masih memakai tas coklat :(
Tapi entah kenapa aku yakin surat ketiga ini akan kamu baca maka aku buat lagi surat untukmu. Sebenarnya surat pertama dan kedua aku juga yakin, tapi setelah lihat kamu pagi ini kayanya aku salah.
Aku masih berpikir untuk mengenalimu dengan cara langsung ketemu kamu, mungkin besok, atau mungkin lusa, mungkin minggu depan atau kapan-kapan. Kamu mungkin bilang aku pengecut, sementara aku akui saja dulu, tapi aku punya alasan untuk itu, dan suatu saat akan kuberitahu alasannya.
Surat ketiga ini akan singkat saja, aku membuatnya tergesa-gesa karena ada pekerjaan lain yang harus kuselesaikan. Aku masih menunggu balasanmu, jika kamu sempat.
Salam
Lelaki yang memandang dari jauh.
Ini ketiga kalinya aku kirim surat, setelah surat pertama dan kedua sepertinya tidak kamu terima. Ya akhirnya aku menyimpulkan kamu tidak menerima setelah hari ini kamu masih memakai tas coklat :(
Tapi entah kenapa aku yakin surat ketiga ini akan kamu baca maka aku buat lagi surat untukmu. Sebenarnya surat pertama dan kedua aku juga yakin, tapi setelah lihat kamu pagi ini kayanya aku salah.
Aku masih berpikir untuk mengenalimu dengan cara langsung ketemu kamu, mungkin besok, atau mungkin lusa, mungkin minggu depan atau kapan-kapan. Kamu mungkin bilang aku pengecut, sementara aku akui saja dulu, tapi aku punya alasan untuk itu, dan suatu saat akan kuberitahu alasannya.
Surat ketiga ini akan singkat saja, aku membuatnya tergesa-gesa karena ada pekerjaan lain yang harus kuselesaikan. Aku masih menunggu balasanmu, jika kamu sempat.
Salam
Lelaki yang memandang dari jauh.
Sunday, January 15, 2012
To: Engkau yang (masih) duduk di sudut Halte.
Hai,
Ini aku lagi, yang kemaren kirim surat.
Aku berasumsi kamu telah menerima suratku yang kemaren karena kertas itu tak ada lagi di tempatnya. Ya kalau bukan kamu mengambil, berarti diterbangkan angin atau diambil orang lain. Makanya aku berasumsi saja, sukur-sukur benar. Aku yakin kamu agak kesulitan membaca tulisanku yang kata orang-orang kaya cakar ayam. Ditambah dengan tata bahasaku yang kacau balau pasti bikin kamu pusing. Ya semoga kamu ga sampai beli paracetamol. Asal tahu aja nilai Bahasa Indonesia ku paling tinggi 6 (ga penting ya)
Sebenarnya ketika tadi aku melihat tempatmu biasa duduk, aku berharap dapat balasan. Ternyata tidak. Atau jangan-jangan memang kamu nggak menerima suratku kemaren? Ah, tadi kan aku sudah berasumsi surat itu telah kau terima..Labil ya :D
Tadi, aku melihat ada yang beda dari dirimu. Tas kamu baru hahaha… Kemana tas putihmu? Baru juga kemaren aku tulis di surat bahwa tas itu menjadi cirikhas yang membuatku menoleh padamu, eh malah ditukar. Atau jangan-jangan kamu baca suratku dan mengganti tasmu agar aku berpaling darimu? Ah kamu gagal kalau begitu.
Kamu sudah terlanjur jadi bagian hidupku. Iya… Benar, aku mengklaimnya sepihak tanpa persetujuan darimu. Bahkan sekarang kamu adalah rutinitasku di pagi hari. Seperti sarapan. Tapi tas coklatmu itu bagus kok, atau boleh kubilang apa yang kamu pakai semua terlihat bagus, apapun itu,
Kamu masih menduga siapa aku nggak? Atau kamu sudah tahu, aku yakin tidak… Rencananya tadi aku mau mendekatimu, kemudian kita kenalan, kamu tersenyum dan kita kemudian ngopi-ngopi di warung depan hehehe.. begitu skenarionya tapi kemudian aku urung, entah kenapa keberanianku hilang, mungkin lain kali.
Aku rasa sampai disini dulu, harapanku kali ini semoga benar-benar kamu yang baca surat ini, sukur-sukur kamu balas.
Salam
Lelaki yang (masih) melihatmu dari jauh.
Saturday, January 14, 2012
To: Kau yang duduk di sudut Halte.
Hai Kamu…
Hahaha, akhirnya Aku menulis surat ini juga. Kau mungkin heran (atau nggak?) kenapa di jaman modern ini masih ada yang nulis surat.
Begini, sebenarnya maunya aku kenalan langsung dengan kamu. Kau tahu? kita itu sudah bersama sejak lima bulan lalu. Haaa… Kau pasti langsung nebak-nebak siapa aku. Tapi aku yakin Kau nggak akan tau siapa aku, karena selama lima bulan pertemuan kita (?), tak sedikitpun mata indahmu menatapku, atau bahkan menatap orang-orang lain disekitarmu. Setiap Kau datang pasti selalu duduk di sudut halte ini kemudian seperti tak menghiraukan sekitar, Kau akan langsung menunduk membaca buku yang judulnya entah apa.
Aku masih ingat lima bulan lalu, saat itu hari pertama kerja, aku tidak terlalu memperhatikanmu, namun beberapa hari berikutnya Kau mangalihkan duniaku (kaya iklan ya hehe). Betapa tidak Kau selalu berpenampilan sama, blazer hitam, celana jins hitam dan sebuah tas putih. Dan juga Kau selalu duduk disudut halte ini, dan seperti sudah dibooking, tak ada orang lain ditempat yang Kau duduki sekarang. Ya mau tak mau aku terpaksa meperhatikanmu, dan lama-lama jadi kebiasaan. Aku sampai hafal jam kedatanganmu dan angkot apa yang kau naiki.
Aku masih belum berani mendekatimu langsung, maka surat ini kuanggap sebagai awal perkenalan, siapa tahu setelah ini kita bisa ngopi-ngopi di warung depan :D
Baiklah, untuk awalnya segitu saja dulu. Takutnya jika surat ini terlalu panjang Kau keburu membuangnya ke tong sampah. Oh ya, jika Kau berniat membalas surat ini, selipkan saja balasannya di besi tepat dimana surat ini Kau temukan. Aku pasti membacanya.
Salam
Lelaki yang melihatmu dari jauh.
Wednesday, January 4, 2012
2012
Yup, udah tahun baru lagi, atau lebih tepatnya bagi saya ini merupakan tahun baru ketiga di LUWUK...
Yes gw masih disini, di peninsula timur Celebes, menghitung hari menunggu kejutan.
Ada yang berubah, tentu, karna waktu tidak pernah sama, begitu juga sekarang.
Malam pergantian tahun ditandai dengan hujan yang cukup deras mengguyur kota Luwuk, sehingga rencana saya dengan teman-teman untuk menghadiri pesta kembang api tidak sukses. Kami hanya berdiri di depan rumah menatap langit yang saat itu cukup bercahaya dengan pijaran cahay kembang api.
Tak seperti tahun lalu saat saya dengan seorang teman Yunas berkeliling kota Luwuk sampai pukul 4 pagi. Yup 4 pagi, dan memang di Luwuk pada tahun baru, tidak ada kata tidur. Semua berpesta, dan perayaan tahun baru ini mengalahkan perayaan lainnya. Tahun ini Yunas telah menikah dan saya ditemani teman lain yang usianya jauh dibawah saya. Begitulah alam berbahasa karena sepertinya tahun baru ini saya sendiri maka hujan pun turun seakan menghentikan semua langkah bagi sebagian orang.
Dan setiap pergantian tahun selalu ada tanya, apa yang telah kau capai di tahun lalu dan apa harapanmu ditahun baru ini. Dan saya tak pernah bisa jawab, karena bagi saya pergantian tahun tidak merubah apapun kecuali usia yang makin bertambah. Kalaupun ada target itu tak lebih target dari kantor yang jadi nilai di pekerjaan saya. Sesuatu terjadi bukan tanpa alasan maka berusaha menjadi terbaik adalah hal mutlak karena manusia yang beruntung itu adalah yang hari esoknya lebih baik dari sekarang.
Jika Tuhan mengijinkanmu melakukan sesuatu maka akan terjadi atas kehendakNya. Rencana adalah milik kita tapi tetap Tuhan penentunya. Dan disisa usia apa yang bisa kita perbuat?
Udah dulu, mau bikin nota ------ bikinnya dikantor loh------- :))
Yes gw masih disini, di peninsula timur Celebes, menghitung hari menunggu kejutan.
Ada yang berubah, tentu, karna waktu tidak pernah sama, begitu juga sekarang.
Malam pergantian tahun ditandai dengan hujan yang cukup deras mengguyur kota Luwuk, sehingga rencana saya dengan teman-teman untuk menghadiri pesta kembang api tidak sukses. Kami hanya berdiri di depan rumah menatap langit yang saat itu cukup bercahaya dengan pijaran cahay kembang api.
Tak seperti tahun lalu saat saya dengan seorang teman Yunas berkeliling kota Luwuk sampai pukul 4 pagi. Yup 4 pagi, dan memang di Luwuk pada tahun baru, tidak ada kata tidur. Semua berpesta, dan perayaan tahun baru ini mengalahkan perayaan lainnya. Tahun ini Yunas telah menikah dan saya ditemani teman lain yang usianya jauh dibawah saya. Begitulah alam berbahasa karena sepertinya tahun baru ini saya sendiri maka hujan pun turun seakan menghentikan semua langkah bagi sebagian orang.
Dan setiap pergantian tahun selalu ada tanya, apa yang telah kau capai di tahun lalu dan apa harapanmu ditahun baru ini. Dan saya tak pernah bisa jawab, karena bagi saya pergantian tahun tidak merubah apapun kecuali usia yang makin bertambah. Kalaupun ada target itu tak lebih target dari kantor yang jadi nilai di pekerjaan saya. Sesuatu terjadi bukan tanpa alasan maka berusaha menjadi terbaik adalah hal mutlak karena manusia yang beruntung itu adalah yang hari esoknya lebih baik dari sekarang.
Jika Tuhan mengijinkanmu melakukan sesuatu maka akan terjadi atas kehendakNya. Rencana adalah milik kita tapi tetap Tuhan penentunya. Dan disisa usia apa yang bisa kita perbuat?
Udah dulu, mau bikin nota ------ bikinnya dikantor loh------- :))
Subscribe to:
Posts (Atom)