Saturday, March 10, 2012

CERITA TIGA HATI

ALDVI : Pertemuan Tak Sengaja

 
Aldvi masih tidak mengerti perasaannya. Antara senang dan satu lagi nggak dimengerti itu. Pertemuannya dengan Sera tadi sedikit mengusik pikirannya. Ah Sera,  perempuan yang sempat bermain-main di pikirannya. Aldvi sendiri bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia senang ketika mendengar tentang Sera, tentang apa aja, Tak ada yang tahu, Aldvi sering memantau Sera di facebook. Apa namanya itu? Stalker?

Adalah tadi, sumber kekacauan pikiran Aldvi. Secara ta sengaja ia bertemu dengan Sera. Setelah sekian lama, Aldvi juga lupa, kapan terkahir kali bertemu Sera. Sejak lepas dari SMU, ia jarang bertemu Sera, kalaupun bertemu tak lebih dari hanya sekedar menyapa hingga tadi siang….
 *****

Tamat kuliah itu mggak enak, begitulah pemikiran Aldvi saat ini. Kemana-mana pergi selalu disambut pertanyaan “Kerja dimana sekarang?” Sungguh yang bertanya itu sangat tidak mengerti beban maha berat yang kini dipikul Aldvi. Enakan kuliah dimana-mana, ga perlu mikir kerja, dikasih jajan lagi. Sebenarnya Aldvi telah mencoba berbagai kesempatan, tapi tak ada perusahaan yang menerimanya hingga saat ini. Apa yang salah? Gw kan ganteng, kata Aldvi suatu ketika, tanpa ia sadari Ganteng itu tidak pernah ada dalam syarat melamar pekerjaan.

Suntuk di rumah, Aldvi berencana untuk pergi jalan-jalan. Siapa tau di jalan ada pekerjaan yang bisa dia dapatkan. Salah satu Mall di Kota Bandung akhirnya menjadi tujuannya, yah dia tidak tahu lagi harus kemana. Doni dan Reza yang diharap bisa diajak hang out bareng malah ada janji kencan dengan dengan pacar masing-masing. Satu lagi beban hidup Aldvi yang belum terpecahkan sekarang adalah JOMBLO. Apa yang salah? Gw kan Ganteng? Nah kali ini baru tepat pemikiran Aldvi.

Ternyata muter-muter bahkan setiap sudut mall telah dijelajahi Aldvi tak membantu menghilangkan suntuknya. Ke rumah Deka adalah tujuan berikutnya. Tepat sesaat sebelum ia memutuskan meninggalkan mall untuk ke rumah Deka, ia melihat sesosok yang ia kenal.

“Sera!!!”
“Eh… Hai… Al?? Lagi ngapain disini?” Wanita itu, Sera, kaget disapa tiba-tiba.
“Ya.. jalan-jalan aja, lah kamu ngapain kesini? Bukannya di Jakarta?” Aldvi memperhatikan Sera, tidak ada yang berubah. Itu Sera yang dulu.
“ Lagi wiken kali, tidak ada yang bisa memisahkan aku dari Bandung…”
“Udah kerja?”
“ Ya Ser, kirain kamu ga akan nanyain itu”
“Eh Maap… Mau kemana?
“Rencananya sih mau ke tempat Deka, tapi ketemu kamu jadi ga jadi deh?”
“Kok ga jadi?
“Kan ketemu kamu, mending ketemu kamu deh dari pada Deka”
“Hahaha… , bisa aja Al”
“Lah bener kan? Haha… Udah lama juga ya?
“Udah lama apaan?”
“Kita. Ga ketemu. Udah makan? Pizza yuk?”
“Hmm… mau sih, tapi aku udah makan tadi…”
“Yaaah, padahal kan aku mau minta traktiran ama kamu…’
“ Lain kali aja… Soalnya aku juga mau cari kado untuk teman gitu, ada yang nikah…”
“Oh ya, siapa?
“Ada deh, Temen, ga kenal juga kamunya…”
“Mau aku temenin?”
“Iiih jangan, soalnya yang mau ku beli itu khusus perempuan”
”Emang kenapa? Kamu mau beli pakaian dalam?
“Mmmm, lebih tepatnya lingerie, mau ikut?
“Haha, makanya kamu ga akan nyaman, lagian aku udah bareng Ana kok…”
“Ana? Mana?”
“Tuh lagi di bodyshop nyari bodybutter”
“Ooh, ya udah, lain kali ya, kamu utang nraktir aku loh…”
“Oke, tenang, ntar mau bobol tabungan dulu”
“Hahaha, janji ya…”
“Ya udah, aku pergi dulu…”
“Kemana?”
“Pulang, soalnya kamu ga bisa ditemenin sih”
“Emang kamu mau nemenin aku beli Lingerie?”
“Nggak, hahaha… ya udah aku pergi dulu ya…”

Aldvi meninggalkan Sera, sekali-kali ia menatap kebelakang dan ia tahu Sera memperhatikannya. Ia tersenyum, melirik lagi dan masih melihat Sera menatapnya. Ia melambaikan tangannya dan berbalik menuju parkiran. Ada perasaan senang ketemu Sera lagi. Ia Tak mengerti, pikirannya berkecamuk, di satu sisi ia manganggap wajar, senang ketemu teman lama, di sisi lain ia mempertanyakan, apakah benar hanya karena teman lama saja. Entahlah.

“Lu jadi ke tempat gue?”

Sebuah pesan singkat dari Deka.

“Ga jadi, ada urusan mendadak di rumah”

Aldvi berbohong, sebenarnya ia tak tahu harus kemana, tapi ke tempat Deka bukanlah opsi bagus. Deka sahabat dekatnya, sedikit perubahan di wajahnya saja, Deka akan langsung tahu. Dan ia tahu sekarang pikirannya kacau, dan tersangka utamanya tentu saja Sera. Ia tak ingin Deka mencecarnya, tidak kali ini, mungkin nanti. Cuaca Bandung tak sedingin dulu lagi, tapi hati Aldvi siang itu sangat sejuk. Perlahan mobilnya melaju, membelah kota Bandung.

 
SERA: Mengejar Target

“Capek Na”
“Jangan dulu, satu barang lagi”
“Lama amat sih nyari satu barang aja”
“Soalnya ini ga bole ma…
“ITU ALDVI!!!” Ana tidak jadi melanjutkan, demi teriakan tertahan Sera.
“Aduh, gw harus gimana doong, aduh serius, gw harus ngapain” Sera panik sendiri.
Ana bengong melihat tingkah sahabatnya, yang tiba-tiba grasak grusuk ga karuan.
“Kenapa lu kaya cacing kepanasan gitu sih, emang kenapa kalau ada Aldvi, lagian dia juga jauh di ujung sana, liat juga engga kali”
“ Jangan sampai liat, jangan sampai liat” Sera masih panik sendiri.
“ Lu kenapa sih Ser, orang jauh gitu, lagian dia kayanya ga menuju kesini deh…”
“Itu masalah… masalah banget, gw harus ketemu dia”
“ Ya udah, pergi sono samperin…”
“Aduuh Ana, ga level lah gw yang ngedeketin, adanya dia yang harus deketin gw…”
“Errr… yang liat dia kan lu Ser, dia belum tentu juga tahu lu ada disini, nah lu mau ketemu dia atau nggak?”
“Ya mau lah… gimana penampilan gw??
“Berantakan”
“Good, pede gw ilang, harusnya tadi gw ke salon, kalau gini kan ga enak dilihat”
‘Mau Pede lu ilang kek, mau lu ke salon kek, si Aldvi nya udah pergi tuh”
“Hah????’ Kok lu biarin???”
“Lah yang biarin sopooooo? Ketemu juga nggak, lu sih panik sendiri, udah jauh tuh dianya, telpon aja gih…”
Belum sempat Ana melanjutkan ocehannya, tiba-tiba Sera menarik tangannnya dengan kuat dan mengajaknya berlari.
“Ser, mau kemana?”
Sera, tidak menjawab, ia terus menyeret Ana, maka terlihatlah pemandangan dua wanita yang tengah berlari-lari di mall sambil sesekali merundukan badan.
“Napain sih Ser pake nunduk-nunduk segala?’
“Biar ga keliatan Aldvi-nya”
“Ya nggak mungkin keliatanlah dia didepan kita gitu, jauh lagi…”
“Udah lu ikut ajaa…”
“Eh dia belok tu…”
“Cepat, kita harus motong jalur dia, lewat sini….’
Dan dua wanita itu masih berlari-lari tanpa peduli pandangan aneh pengunjung lain. Dengan sedikit liukan kesana-sini dan memotong jalur-jalur alternatif, akhirnya mereka bisa mendahului jalur Aldvi.
“Sekarang gimana?”
“Udah kita pura-pura belanja di bodyshop, ntar kalau dia udah dekat, pura2 keluar gitu”
“beli apa di bodyshop?
“Bodybutter’
“Gw kan ga make”
“Gw ga nyuruh make, gw nyuruh lu beli… Cepaaaat dia makin dekat…”
Sera dan Ana masuk ke Bodyshop, Ana yang dengan hati tidak rela pun pura-pura belanja Body Butter. Tepat sesaat sebelum Aldvi sampai di depan counter bodyshop Sera keluar dengan anggun seakan baru selesai belanja.
“Sera???
“Eh… Hai… Al?? Lagi ngapain disini?” Sera pura-pura kaget.
Pas. Tepat sesuai yang direncanakan Sera.

Friday, February 10, 2012

My Best Friend Wedding

Hari ini jum'at 10 Februari, sahabat gw, Ahmad Mukhtar Amir melepas masa lajangnya. Sayangnya gw ga bisa hadir di hari bahagianya itu. Sebenarnya At, begitu dia dipanggil, telah memberitahu gw jauh sebelum hari ini, kalau tidak salah lebih sebulan yang lalu. Waktu dia, lewat bbm, dia memberitahu kabar bahagia ini, datang ya.. begitu inti pesannya.
Huuffft... bukannya gw ga mau datang, siapa sih yang ga mau hadir di pernikahan sahabatnya? Ya... you knowlah.. gw jauuuuuh banget dari sumatera sana. Gw bahkan sempat jawab waktu itu, "insyaAllah At, mudah2an gw udah di Jakarta, gw pasti datang" Tapi harapan tinggal harapan, akhirnya Tuhan juga yang menentukan, gw masih nyungsep di pulau K ini. dan hanya bisa mengirimkan do'a.Dan yang bikin nyesek lagi, hari rabu kemaren, Mamanya Ahmad telpon gw, dengan maksud sama, mengundang untuk datang. Untuk kesekian kalinya gw membenci jarak yang menghalangi antar gw dan kerabat gw yang ada di Sumatera sana.
Ahmad adalah salah satu sahabat terbaik gw, salah satu, karena sahabat baik gw banyak, ya termasuk kamu yang lagi baca hahaha... Kedekatan gw dengan Ahmad, dimulai ketika gw dan Ahmad sama-sama kuliah di jurusan yang sama di PTN di Padang. Awal persahabatan gw, dimulai ketika kami sama-sama kos didaerah yang sama sehingga sering pulang bareng jalan kaki... (ga elit banget) Mungkin karena keseringan jalan kaki bareng akhirnya kaki kami pun akrab eh.. maksudnya kita pun akrab. Ya biasalah, untuk membunuh waktu saat jalan kaki yang makan waktu 20 menit itu, kami sering bercerita tentang apa aja dari kaus kaki sampai kacamata. Bingung? ya maksudnya sampai hal sekcil apapun kami bincangkan, apalagi yang besar kaya tugu monas.
Berikutnya persahabatan kami menjadi simbiosis mutualisme mendekati ke parasitisme. Ya gw banyak ngambil keuntungan dari dia. Kenapa? Karena si Ahmad itu pinternya ga nyantai dan gw stupidnya mutlak. Nilai terendah di kartu nilainya adalah B dan gw D, IPKnya diatas 3,5 dan gw 2,1... see??? Jadi gw manfaatkanlah kejeniusan dia untuk mendongkrak IP gw hahaha... eh tapi dengan positif ya, yaitu belajar bersama... uhuk!
Seperti juga persahabatan2 lainnya kayanya nggak pas kalau persahabatan kita ga membahas cinta dan wanita. Nah dulu tuh si Ahmad sering curhat ke gw tentang cintanya siapa yang dia suka, kenapa dia suka trus sering minta saran ke gw gimana caranya agar mendapatkan gebetannya. Sayangnya dia curhat pada orang yang salah, Lah gw aja ga punya pacar masa bantu dia? hehe.. tapi sebagai sahabat baik gw tetap bantu dengan memberikan saran yang menurut gw sih cukup membantu, ga tau buat dia.
Sebagai anak terpintar, wajah cakep, ahmad juga banyak dinaksir perempuan. Ada juga tuh yang curhat ke gw, kalau dia naksir si Ahmad, ya gw cuma bisa nyampaikan, keputusan akhir tetap di ahmad ya toh?? Dan sebenarnya cerita gw mulai ngalor ngidul karena sesungguhnya kalau gw ceritain niscaya nih blog bisa berseri ampe ribuan. Jadi ya udah intinya gw sama Ahmad itu akrab, bro gitu deh...
Nah sekarang si Ahmad nikah, gw belum kenal istrinya, dan tentu aja gw sangat bahagia untuk dia.
Selamat menempuh Hidup Baru at, semoga Allah memberkahi rumah tangga yang kini kau jalani, mendapat keturunan yang sholeh/a dan bahagia sampai akhir hayat Amiiiin.



Nb: Kemaren minta  kado ya At? Ntar kalau pulang ya Insya Allah, itu pun kalau ga lupa dan masih ada duit...:))

Wednesday, February 1, 2012

Off The record OJT II (Part II )


“Lelahkuuuuu jadi lelahku jugaaaa”
Dan demi mendengar suara fals itu, seorang ibu tiba tiba jadi mules.
“Bahaaagiamuuuu bahagiaku pastiii…” Sang diva dengan tanpa merasa sangat bersalah melanjutkan aksinya… Dan toilet pun jadi antri.
“Ki udah deh, jangan terlalu berusaha, cukup lu aja yang denger”
“Lo kenapa sih dai, Lo ga bisa yah lihat gw seneng, lo ga rela ya liat gw bahagia, lo kejam dai…” Dan drama pun bermula, berlanjut hingga tujuh season, ngalahin Cinta Fitri.
Sekali lagi, itulah kesibukan pagi yang tidak penting dari empat orang yang ga penting juga disalah satu sudut kota Jakarta. (Oh ya biar lebih afdhol baca previous note dg judul yg sama)
* * * * * * * * * *
“Dai lu punya fesbuk ga?”
“Eh lu ga nyanyi lagi?”
“Males, ntar suara bagus gw abis, jawab tanya gw dong!”
“Lu nanya apa?”
“Tuhaaaaaaaan, apa salah gw harus sekelompok ama lu… Sin punya fesbuk ga?
Shinta yang lagi seru-serunya berkhayal tentang pacarnya nun jauh disana tetiba kaget “Ha??? Tesbuk? Buku tes?”
“Fesbuuuk bukan tesbuuuuuk…”
“Oooh fesbuk…”
“Ada ya lu? Add gw dooong”
“Nggak’
Gubrak, setumpukan file tiba2 jatuh dari tempatnya… Kiki baik2 aja kok, nggak jatuh dianya, jangan terlalu berharap.
“Ri…” Si mata sipit ini ga jadi melanjutkan kalimatnya demi melihat Rini yang tertidur pulas di pojokan kubikel. Kiki bingung, dia ga tau harus ngapain lagi demi menghadapi teman-temannya ini. Tiba2 muncul semangat dalam diri Kiki untuk ,membuat mereka lebih maju lagi, saking semangatnya dia berdiri dan mengacungkan tinju keatas sambil berteriak “Merdekaaa!!!!”
Teriakan lengking fals itu kemudian mengagetkan segenap penghuni ruangan itu.
“Allahu Akbar!!!! Mbak kenapa? Agustusan udah lewat loh mbak…” Bapak kubikel sebelah yang kaget dengan teriakan Kiki tiba-tiba nongol.
“Eh..eh maaf pak, maklum saya semnagat sekali OJT disini untuk mendapat ilmu yang lebih mendalam” Jawab kiki sekenanya.
“Waaah selamat kalau gitu, begini nih anak muda harapan bangsa” dan bapak itu kemudian menyalami Kiki. Kiki hanya mesem-mesem.
Setelah insiden itu Kiki kemudian menghadap tiga temannya yang tiba2 saja telah berkumpul di sudut kubikel dengan pandangan tidak mengerti ke arah Kiki.
“Eh rini udah bangun”
“Iya nih, kebangun gara-gara mimpi kejatuhan pesawat Sukhoi”
“Punya fesbuk ga?”
“Punya doong”
“Naaah, add gw dong”
“add? Itu ngapain?”
“Di add rin, kita jadi teman gitu”
“Lah kita kan udah jadi teman Ki, emang selama ini gue lu anggap apa? Apa artinya kedekatan selama ini?
“ Hadeeh, maksud gue, temenan di fesbuk riiin, bukan sekarang…”
“Eh Fesbuk? Apaan tuh?” Rini malah bingung
“Lah, tadi kan lu bilang ada???”
“Gw kira yang lu maksud notebook, kalau fesbuk gw ga tau”
“ Jauh kali riiin…”
“Huffft…Sudahlah, kalian dengerkan gw aja” kiki menghela napas berat.
Jadi gini, di zaman modern yang serba gaul sekarang ini, ada jejaring social yang memungkinkan kalian untuk berkomunikasi dengan teman-teman lai di dunia maya”
“Maya siapa?” tiba-tiba shinta nanya.
“Jangan potong kalau gw lagi khotbah, dan ga usah tanya siapa itu maya, gw aja belum kenalan.” Dan mulailah kiki bercerita tentang facebook dengan bersemangat dan muncrat. Intinya Kiki ingin ketiga temannya itu tahu dan mempunyai akun facebook.
“ Jadi gitu, kalian harus bikin facebook” Kiki mengakhiri pidatonya.
Kokok… (nih burung kenapa selalu ada sih?)
“Kalian ko diem sih?”
“Lu ngomong apa ki?” Badai sekali lagi bikin masalah.
Dan pada saat itu kiki merasa sangat terpukul, ia tak menyangka pidatonya tentang facebook  hanya dianggap angin lalu oleh teman OJT nya itu.
“Baiklah, gw ga tahu lagi harus berbuat apa untuk kalian, tapi kayanya dari pada pusing sendiri bagaimana kalau besok kita bikin facebook bareng, sementara itu kalian harus beli modem dulu”
“Haa… kalau modem si Holin ada jual tuh” Kata rini.
“ Haa holin sekarang jualan modem? Sejak kapan? Udah ga kerja lagi?”
“Yee, besok badai kita keluarkan dari grup ini aja, dari tadi ga ada nyambung-nyambungnya, yang jual dajal, pacarnya holin, nah si Holin Bantu”
“Iya nih si badai  bikin susah kita aja” Kiki merasa dapat dukungan dari Rini.
“Iya deh, mulai sekarang gw diem” Badai sedih, dia kemudiam nyungsep di pojokan.
“Emang berapa harga modemnya rin? Kayanya enak juga tuh bisa skype-an ama pacar gw di Malaysia” Shinta sepertinya tertarik.
“Kemarin sih bilangnya ke Ni, 950 ribu”
“HAAAAA???? GA BISA KURANG? 200 RIBU KEK!!!”
“Shin, santai dong, ini bukan di tanah abang, kalau ga sanggup beli ya udah, ntar pinjem punya gw aja” Kiki menawarkan alternatif.
“Gw pengen punya juga ki, ga ada gitu ya yang kw3, biar buatan china ga papa deh…”
“Yeee China buat juga mahal kali”
“ Ga papa deh, besok gw ambil tabungan untuk nikah aja…” Shinta sendu.
Suasana berubah syahdu, sungguh suatu pengorbanan yang sangat besar demi sebuah modem.
“Nanti Ni usahakan agar dapat diskon deh”
“Ha.. serius rin?”
“Iya Diskon 10ribu”
“Yaaa sama aja bokek”
“ Ya udah, ga papa sekali ini Shin, ntar juga bisa dipakai lama”
“Iya.”
“Okeh, jadi besok kita beli modem ya… Setujuu”
“Setujuuu” Rini dan Shinta menjawab serentak.
“Gimana Dai???”
Dan ketiga wanita itu terpana demi menyaksikan Badai tertidur pulas di pojokan kubikel.


*masih dipersembahkan untuk Rini, Shinta dan Kiki

Thursday, January 19, 2012

Untuk Anakku Aqila

Qila Sayang,

Sebelumnya maafkan papa yang baru sempat mengirimmu surat lagi sekarang, Alasannya mungkin seperti yang biasa papa selalu kemukakan, papa sibuk dengan pekerjaan. Papa harap kamu tak membenci papa karena itu.


Qila Sayang,
Papa dengar cerita dari Mak Uwo, kamu marah sama papa karena tidak mau menemui kamu.  Qila sayang, papa sangat ingin menemuimu, papa rindu memelukmu tapi saat ini papa harus bekerja, demi kamu, demi mak uwo dan demi kita semua. Untuk itu papa harus terpisah jauh darimu, agar kamu tetap bisa sekolah dan mak uwo tetap bisa ke pasar. Mungkin kamu tak akan mengerti saat ini, tapi papa yakin suatu saat kamu akan memahami. Satu yang ingin papa ingatkan, papa selalu sayang kamu. Selalu. Jangan marah lagi ya sayang, papa sedih jika kamu harus menangis karena papa. Tersenyumlah nak, senyum yang mampu menceriakan semua orang.


Qila sayang, bulan depan adalah ulang tahunmu, tak terasa udah enam tahun usiamu sekarang. Sudah besar kamu sekarang nak, dan pasti kamu cantik, secantik mamamu.  Sebentar lagi kamu akan masuk SD, seandainya papa disana nak, papa pasti kan mengantarkan kamu di hari pertamamu masuk sekolah. Papa dengar kamu sudah bisa mengaji, Alqur-an besar atau kecil? Sudah berapa surat pendek yang kau hapal? Suatu saat papa ingin mendengarkan suaramu yang merdu mengaji Alquran. Ah Papa sangat bangga padamu dan Mamamu disana pasti akan tersenyum juga. Sangat. Dan jangan lupa sholat ya, kan Qila udah besar sekarang, biar nanti masuk surga. Jangan lupa sebut nama Mamamu di do'a yang kau ucapkan agar ia bahagia di sisiNya.

Qila Sayang,
Papa tak ingin menuliskan surat terlalu panjang, nanti Mak Uwo mu susah bacanya, katanya sekarang matanya sudah mulai rabun hingga sulit untuk membaca. Kamu jangan nakal sama mak uwo ya, bersikaplah baik dan jadi anak menyenangkan. Rajinlah belajar, agar jadi anak pintar dan tercapai cita-citamu. Papa dengar kamu ingin jadi dokter, papa seneng mendengarnya, dan papa janji akan berusaha mewujudkannya. Suatu saat papa akan dengan suara lantang membaca namamu Dokter Aqila Masykura. Papa tidak sabar menunggu hal itu.

Qila Anakku sayang, sampai disini dulu surat papa, papa akan usahakan lebaran tahun ini pulang menemuimu dan Mak uwo. Papa akan rutin kirim kabar padamu, jadi jangan marah sama papa lagi ya. Do'akan pekerjaan papa lancar sehingga tak ada halangan untuk menemuimu lebaran nanti. Semoga kamu dan Mak Uwo selalu dilimpahkan kesehatan oleh Allah. Amin.


Salam Sayang
Papa



*Terinspirasi dari kisah beberapa orang teman

Wednesday, January 18, 2012

Untuk Jodohku Nanti.

Dear Kamu,
Dalam suratan takdir, kamu adalah jodohku, tulang rusuk pelengkap hidupku, bersama dalam ikatan suci pernikahan.

Lalu aku bertanya, siapakah kamu? Mungkinkah kamu yang kemarin aku temui di toko buku? Atau kamu yang kemarin duduk disebelahku dalam metromini, atau kamu yang adalah seseorang dari masa laluku? Entahlah, yang jelas kamu masih di tanganNya, masih mencari masa untuk menemaniku dan aku masih mencari jalan untuk menemuimu.

Dear Kamu,
Aku kadang mengira-ngira, seperti apa kita nanti bertemu? Aku membayangkan kita secara tak sengaja betubrukan di jalan hingga buku-bukumu berhamburan, kamu memungutnya dan kemudian aku membantu, tanpa sengaja kau memegang tanganmu kemudian mata kita saling bertatapan, dan... ah terlalu Sinetron.
Atau mungkin aku bertemu kamu di teminal bis, menunggu bus antar kota sama sepertiku, aku datang menghampiri dan kita saling berkenalan, bertukar cerita kemudian tukar nomor hape. Atau mungkin kita tak pernah bertemu, tapi tiba-tiba orang tua kita sudah sepakat dan aku pertama kali melihatmu di depan penghulu. Ah untuk skenario pertemuan, khayalanku kadang memang tinggi, tapi aku percaya Tuhan punya caraNya sendiri untuk menyatukan kita, dan kadang tak terduga.

Dear Kamu,
Kata orang, kamu ada ditanganNya, tapi jika tidak diambil kamu akan tetap disana. Aku jadi kuatir. Kamu yang belum datang bahkan disaat waktu mulai luruh, kamu yang belum tersentuh meski tercipta untukku, hingga tempat kita masih dalam bayangan. Kosong. Aku pernah mencarimu, di hiruk pikuknya jalanan, di luasnya samudra,  dalam lebatnya hutan, hingga di keheningan puncak Gunung. Namun tak pernah kudapat kamu, bahkan tanda-tanda pun tiada. Aku juga biasa menunggumu, dari embun mulai jatuh, sampai senja merona malu-malu. Namun hingga kelam menyapu, kamu tak terlihat.

Kadang aku putus asa, benarkah kamu ada, kalau ada kenapa tak mendekat saja? Ketika orang lain begitu mudah menemui miliknya, kenapa aku tak jua menyapamu sampai saat ini. Dan adakah kamu mencariku juga? Atau hanya menunggu? Kamu tahu? Setiap tubuhku mengeluh lelah, kubayangkan indah bersamamu, dan semangatku selalu muncul membayangkanmu dalam dekapanku. Maka, walau lelah, perjalanan ini tak pernah kuhentikan, kulangkahkan dan kuteruskan. Ya.. inilah aku, kuharap kau mau menemuiku di waktu dan tempat yang tepat natinya. (Kalau bisa jangan terlalu lama)

Dear Kamu,
Jika nanti kamu sudah disisiku, aku akan memaksamu untuk membaca ini, kemudian kita akan bersama menertawai waktu yang memperlambat pertemuan kita dan mencemooh jarak yang coba menghalangi kita. Tentu saja, karena saat itu kita telah menang. Jika kau sudah disisiku, percayalah, aku akan selalu menjagamu, membuatmu tersenyum adalah keharusanku dan bahagiamu adalah kewajibanku. Dan kita akan bersama menjalani hidup penuh cinta dengan anak-anak kita  2 orang, atau tiga orang atau kamu mau berapa?

Dear Kamu
Sabarlah menungguku, untuk saat ini aku masih berusaha, kuharap waktu akan bergerak lebih cepat dan jalan yang kulalui masih sama. Jalan untuk menemuimu. Jangan lupa berdo'a agar kamu lepas dari tanganNya dan menjadi milikku.

Salam sayang
Jodohmu Nanti.




.